Suara millenial dari negeri di atas awan

“Dengan mencoblos, saya merasa sudah menyampaikan harapan kepada orang-orang yang saya pilih, khususnya presiden,” katanya.

Medan (ANTARA) – Satu musibah, banyak hikmah.

Musibah mengajarkan umat manusia ikhlas dan tetap tegar menjalani kehidupan lebih baik.

Tak terkecuali bagi para korban bencana alam Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang meletus sejak 27 Agustus 2010 dan diikuti oleh erupsi susulan berkepanjangan dari tahun ke tahun. Hingga kini, pemerintah kabupaten setempat masih mempublikasikan perkembangan keaktifan gunung berapi setinggi 2.451 meter itu.

Musibah itu telah membuat ribuan warganya mengungsi dan tinggal di kawasan baru di Siosar yang sebelumnya dikenal sebagai kawasan hutan di pegunungan. Siosar juga banyak dikenal sebagai kawasan Puncak 2000.

Pemukiman baru yang disiapkan pemerintah seluas 458 hektare itu diperuntukkan untuk bangunan perumahan bagi 1.700 kepala keluarga yang sebelumnya tinggal di radius tiga kilometer, dari Gunung Sinabung, yakni dari Desa Sukameriah dan Desa Gurukinayan (Kecamatan Payung), dan dari Desa Bekerah, Desa Simacem dan Desa Kutatonggal (Kecamatan Naman Teran). Ada juga dari Desa Berastepu, Dusun Sibintun serta Desa Gamber (Kecamatan Simpang Empat).

Selain tempat bermukim, bagi pengungsi tersebut juga dibukakan lahan pertanian seluas sekitar 400 hektare.

Siosar kini menjadi kawasan pemukiman penduduk.

Hikmah pertama, perasaan senasib sepenanggungan membuat penduduk dari berbagai desa berkumpul dalam satu lokasi baru sehingga makin memperkuat kekerabatan di antara mereka. Mata pencaharian mereka dari pertanian pun tak hilang lantaran mereka tetap bisa bercocok tanam di tempat tinggal baru mereka.

Hikmah lainnya tentu saja pesona Siosar sebagai tempat wisata karena lokasinya di dataran tinggi. Bahkan desa ini dijuluki negeri di atas awan karena setiap orang dari ketinggian, seolah dari langit, bisa memandang ke seluruh tempat sejauh mata memandang.

Siosar berjarak kurang lebih 30 kilometer dari Kabanjahe, ibu kota Kabupaten Karo. Jalan menuju ke sana juga sudah beraspal dan di sekelilingnya dipenuhi pemandangan hijau pepohonan dan ladang pertanian.

Siosar yang semula kawasan hutan yang sunyi sepi, kini menjadi kawasan pemukiman yang ramai. Siosar kini menjadi salah satu kawasan objek wisata baru di Karo.
Permukiman Siosar, Karo, tempat bermukim baru bagi masyarakat Karo yang menjadi korban letusan Gunung Sinabung. ( Irsan Mulyadi)

Menjelang penyelenggaraan Pemilu 2019, ANTARA mengunjungi Siosar untuk memantau bagaimana penduduk di lokasi pengungsian itu Merayakan Demokrasi Indonesia.
 
 
Akibat terus mendapat perhatian dari banyak pihak, khususnya sejak direlokasi ke Siosar pada tahun 2016, warga milenial itu terkesan melek politik.

Baca juga: Meningkatkan target pemilih di Karo

Meski di kawasan Siosar terlihat nyaris sepi dari gegap gempita pemilu seperti spanduk sosialisasi pemilu atau spanduk para calon legislatif dan termasuk calon presiden,namun ternyata para milenial itu terkesan paham dengan pesta demokrasi di April 2019.

Baca juga: Aplikasi Ayonyoblos.id sasar pemilih milenial tangkis Golput

Baca juga: Saran Atiqah Hasiholan kepada milenial

Tina Tresia Media bre Ginting (18), salah seorang gadis di Desa Bekerah, Kecamatan Naman Teran, Karo, misalnya langsung bercerita lugas saat ditanya tentang kesiapan dirinya menghadapi Pemilu 2019 pada April mendatang.

Usai melayani pembeli di tempat usaha milik ibunya, Tina mengaku siap mencoblos karena itu hak bagi setiap warga yang memenuhi persyaratan untuk memilih presiden dan wakil rakyat. Tina yang baru kuliah di sebuah perguruan tinggi itu menilai bahwa menggunakan hak suara penting kemajuan daerah.

Tina berharap Siosar bisa menjadi kawasan yang lebih maju sehingga warga yang dulu pernah berduka cita karena musibah erupsi Gunung Sinabung bisa bersuka cita kembali di pemukiman baru Siosar.

“Dengan mencoblos, saya merasa sudah menyampaikan harapan kepada orang-orang yang saya pilih, khususnya presiden,” katanya.

Pendapat senada juga dilontarkan Novia Yolanda bre Sitepu yang bekerja sebagai barista di kedai kopi Mejuah-juah Coffee Shop di Siosar.

Menurut dia, sayang sekali kalau hak suara tidak digunakan apalagi mencoblos di Pemilu itupun punya waktu-waktu tertentu.

Meski baru pertama kali akan mencoblos di Pemilu, Tina maupun Novia meyakini tidak akan kesulitan.

Alasan keduanya, sudah mengetahui cara mencoblos dari beberapa media massa dan sosial.

Bahkan keduanya mengaku sudah punya pilihan untuk dicoblos, mulai calon presiden/wakil presiden, DPD RI, DPR RI, DPRD Sumut, dan DPRD Kabupaten Karo.

“Aku yakin tidak ada kendala, walau sosialisasi langsung belum pernah ada. Mungkin sudah pernah sosialisasi, tetapi saya tidak pernah tahu,” ujar Tina.

Keduanyapun mengaku sudah mengetahui tata cara mencoblos lima surat suara yang mereka peroleh dari berbagai pemberitaan media massa, termasuk dari beragam media sosial.

Sosialisasi

Baca juga: Milenial #IniKerjaKu akan terus naikan elektabilitas Paslon 01
Baca juga: Milenial 028 dukung Prabowo-Sandi di Pilpres

Ketua Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Karo Gemar Tarigan menyebutkan, Siosar masih menjadi daerah yang mendapat perhatian khusus. Mereka diberikan sosialisasi pemilu.

Ditambah Siosar sudah ditetapkan Kemendagri masuk di wilayah Kecamatan Tiga Panah sejak awal Januari 2019.

Apalagi, ujar Gemar, warga Siosar sudah pernah menggunakan hak suaranya saat Pemilihan Gubernur Sumut tahun 2018 dan pelaksanaannya berjalan lancar.

“Saat Pemilihan Gubernur, persentase pemilih juga lumayan tinggi termasuk dari kaum milenial,” ujarnya.

Komisioner Bawaslu Abraham Tarigan menyebutkan, keinginan kuat calon pemilih khususnya kalangan milenial itu harus diapresiasi dengan tindakan “bersih” dalam menjelang, saat dan pascapemilu.

Tujuan penjagaan pemilu bersih dan aman itu untuk menjaga kepercayaan masyarakat khususnya kalangan millenial.

Oleh karena itu pula, ujar Abraham, Bawaslu lebih melakukan tindakan pencegahan kecurangan di Pemilu.

Sementara itu Ketua KPU Sumatera Utara Yulhasni mengakui, KPU menyasar kaum millenial untuk meningkatkan partisipasi pemilih pada Pemilu 2019.

Kalangan milenial penting karena data menunjukkan di dalam setiap pemilu, ada sekitar 30 persen dari total jumlah pemilih merupakan pemilih muda dengan usia 17 hingga 30 tahun.

Dengan itu, katanya partisipasi mereka akan sangat berpengaruh dalam menentukan hasil pemilu.
 
 
 

Oleh Evalisa Siregar
Editor: Budi Setiawanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019


Artikel yang berjudul “Suara millenial dari negeri di atas awan” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments