Indonesia Dipercaya Taliban Jadi Mediator Perdamaian

Indonesia menjadi mediator perdamaian di Afganistan. Pengamat menilai perdamaian dapat tercipta di Afganistan, dan bahwa Indonesia akan berhasil menjadi fasilitator dalam proses menuju perdamaian tersebut.

Pengamat terorisme dari Universitas Malikussaleh, Aceh, Al Chaidar, menyambut positif sikap pro aktif Indonesia untuk mendorong terciptanya perdamaian di Afghanistan.

Kepada Aspiranesia, Senin (29/7), Al Chaidar mengatakan sangat mungkin perdamaian dapat diwujudkan di Afghanistan, dan Indonesia akan berhasil menjadi fasilitator dalam proses menuju perdamaian tersebut.

“Karena Taliban itu sangat percaya pada Indonesia, karena banyak murid orang-orang Taliban itu ada di Indonesia, seperti ustad Abu Tholut. Abu Tholut itu adalah murid dari Sher Muhammad Abbas Stanikzai,” kata Al Chaidar.

Sher Muhammad Abbas Stanikzai, politikus Afghanistan, kini menjabat Kepala Biro Politik Taliban. Pada 1996, Stanikzai melawat ke Washington DC, bertindak sebagai menteri luar negeri Taliban, dan meminta pemerintahan Presiden Bill Clinton memperpanjang pengakuan diplomatik terhadap pemerintahan Afghanistan di bawah Taliban.

Pada 12-15 Agustus tahun lalu, Stanikzai berkunjung ke Indonesia dan mengadakan pembicaraan dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, dan utusan khusus Indonesia untuk Afghanistan, Hamid Aawaluddin.

Mengenai milisi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) yang juga telah membangun basis di Afghanistan, Al Chaidar memastikan hal tersebut bukanlah ganjalan bagi terciptanya perdamaian di negara Asia Tengah itu. Dia mengatakan, mudah bagi Taliban menumpas ISIS.

Al Chaidar mengungkapkan terdapat 71 orang Indonesia yang pernah menjadi murid orang-orang Taliban, namun dia hanya diberi izin untuk mengungkap nama Abu Tholut. Selain hal tersebut, Taliban mempercayai Indonesia menjadi mediator perdamaian karena mereka juga percaya dengan niat tulus Jusuf Kalla. Sebab, Jusuf Kalla sudah cukup lama berhubungan secara intensif dengan pimpinan Taliban. Al Chaidar meminta Jusuf Kalla juga melibatkan para mantan murid Taliban di Indonesia.

Karena itu, Al Chaidar meyakini proses perdamaian di Afghanistan yang tengah didorong oleh Indonesia akan berlanjut. Ketika perdamaian terwujud, dia meminta semua pihak memberi kesempatan kepada Taliban untuk kembali memimpin Afganistan guna menyelesaikan beragam masalah di negara yang dilanda konflik berkepanjangan.

Menurut Al Chaidar, dulu memang ada sejumlah faksi di Taliban yang tidak setuju berdamai dengan Amerika Serikat dan pemerintah Kabul. Namun, ia mengatakan, saat ini semua faksi di Taliban sudah sepakat untuk menciptakan perdamaian.

Duta Besar Indonesia untuk Qatar, Muhammad Basri Sidehabi, mengatakan kunjungan ketiga kalinya delegasi Taliban ini merupakan tindak lanjut instruksi Presiden Joko Widodo kepada Jusuf Kalla dua tahun lalu.

Delegasi Taliban dari Kantor Politik Taliban di ibu kota Qatar, Doha, berkunjung ke Jakarta. Mereka bertemu Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla di rumah dinas di kawasan Menteng, Jakarta, Sabtu malam pekan lalu. Delegasi Taliban dengan delapan anggota tersebut dipimpin Kepala Kantor Taliban di Doha, Mullah Abdul Ghani Baradar.

Basri Sidehabi, orang yang ditugaskan Jusuf Kalla untuk membawa delegasi Taliban dari Qatar ke Indonesia dan mengantarkan kembali ke Doha.

Menurutnya, pengalaman Indonesia dalam menyelesaikan konflik di dalam negeri bisa bermanfaat untuk memfasilitasi proses perdamaian di Afghanistan. Keterlibatan Indonesia dalam upaya perdamaian tersebut atas permintaan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani yang disampaikan kepada Joko Widodo saat melawat ke Indonesia pada 2017.

Dalam pertemuan di rumah dinas Jusuf Kalla, pimpinan Taliban menyatakan akan selalu berkoordinasi dengan Indonesia terkait perkembangan negosiasi dengan Amerika Serikat dan negara-negara lain. Jusuf Kalla juga menyatakan komitmen Indonesia untuk terus menyokong proses perdamaian di Afghanistan.

“Alhamdulillah, arena masuknya Indonesia, semua negara ingin terlibat untuk mendamaikan teman-teman kita yang ada di situ (Afghanistan). Yang penting disampaikan oleh Ibu Menlu (Retno Marsudi) bahwa kita harus mencapai rasa saling percaya dari kedua pihak, baik pemerintahan Afghanistan maupun dengan teman-teman kita dari pihak Taliban,” ujar Basri Sidehabi.

Mengenai keterlibatan negara lain, termasuk Arab Saudi, dalam proses perdamaian di Afghanistan, kata Basri Sidehabi, pemerintah berpikir positif saja bahwa semua negara, meskipun memiliki agenda masing-masing, juga ingin mendamaikan Afghanistan.

Basri Sidehabi menegaskan, Taliban sangat mempercayai Indonesia karena hubungan dekat kedua negara. Selain itu, Taliban menilai Indonesia tidak mempunyai agenda selain ingin melihat perdamaian terwujud di Afghanistan.

Lebih lanjut Basri Sidehabi mengungkapkan, Taliban memandang remeh ISIS. Kalau perdamaian sudah tercapai, pentolan Taliban menegaskan kelompok bersenjata tersebut dapat ditumpas dalam waktu sebulan.

Basri Sidehabi menolak mengomentari soal masih banyaknya serangan bunuh diri dilakukan Taliban meskipun proses perdamaian berlanjut.

Mengenai target kapan perdamaian dapat dicapai, Basri Sidehabi menyatakan, Jusuf Kalla belum memberitahu mengenai hal itu. [fw/ka]


Artikel yang berjudul “Indonesia Dipercaya Taliban Jadi Mediator Perdamaian” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments