Trump Bukan Presiden AS Pertama yang Inginkan Greenland

Pemerintah Greenland mengesampingkan gagasan bahwa pulau itu akan dijual, setelah muncul laporan media bahwa Presiden Amerika Donald Trump telah mendiskusikan minat membeli wilayah Denmark itu dengan para penasihat Gedung Putih.

Tetapi ini bukan pertama kalinya Amerika mempertimbangkan pembelian pulau yang berselimut es itu.

William Henry Seward, menteri luar negeri pada masa pemerintahan Presiden Abraham Lincoln pada tahun 1860-an mengusulkan pembelian Greenland dan Islandia sewaktu ia merundingkan pembelian Alaska dari Rusia.

Sebuah laporan dari Departemen Luar Negeri mengenai pemerintahan selanjutnya di bawah Presiden Andrew Johnson menyimpulkan bahwa sumber daya alam Greenland akan membuatnya sebagai investasi yang berharga.

Dan pada tahun 1946, setelah Perang Dunia II, Presiden Harry Truman menawarkan 100 juta dolar untuk membeli Greenland karena kepentingan strategis geopolitik wilayah itu. Tawaran itu ditolak Denmark.

Hari Jumat (16/8), situs resmi pemerintah Greenland memuat komentar sebagai berikut. “Kami memiliki kerjasama yang baik dengan Amerika Serikat, dan kami melihatnya sebagai ungkapan minat lebih besar untuk berinvestasi di negara kami dan kemungkinan yang kami tawarkan. Tentu saja, Greenland tidak dijual. Karena kabarnya bersifat tidak resmi, pemerintah Greenland tidak berkomentar lebih jauh.”

Sementara itu, kementerian luar negeri Greenland mencuit bahwa mereka “terbuka untuk bisnis, tidak untuk menjual Greenland.”

The Wall Street Journal pertama kali melaporkan berita bahwa Trump telah membahas pembelian itu dengan berbagai tingkat keseriusan.

Menurut artikel tersebut, orang-orang di luar Gedung Putih telah menggambarkan pembelian Greenland itu, dengan cara seperti ketika Amerika mengakuisisi Alaska, adalah untuk menjadi warisan Trump, kata para penasihat.

Gedung Putih tidak mengomentari pertanyaan Aspiranesia mengenai masalah ini. [uh/lt]


Artikel yang berjudul “Trump Bukan Presiden AS Pertama yang Inginkan Greenland” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments